Riset berbasis data historis: saham mana yang paling agresif merespons kenaikan IHSG dari bottom 2020 ke puncak 2022. Hasil riset ini digunakan untuk mengidentifikasi saham-saham yang kini undervalue dan berpotensi memberikan return tertinggi saat IHSG rebound dari level saat ini.
Untuk memahami saham mana yang paling responsif, kita perlu memetakan terlebih dahulu fase-fase kritis IHSG. Ada 3 fase utama yang relevan: (1) Recovery dari pandemi Mar 2020 → Sep 2021, (2) Rally komoditas Sep 2021 → Sep 2022, dan (3) Koreksi berkepanjangan 2023–2026 yang membawa IHSG kembali ke level Sep 2021.
Pendekatan yang digunakan bukan sekadar melihat harga saat ini vs 2021 (seperti analisis sebelumnya). Melainkan, kita mengukur Beta Historis — seberapa besar amplifikasi pergerakan saham terhadap IHSG saat rally — dikombinasikan dengan kondisi harga saat ini yang undervalue. Saham dengan Beta tinggi + harga murah = potensi return berlipat saat IHSG rebound.
Berbeda dari analisis sebelumnya yang berfokus hanya pada bank, riset ini mengidentifikasi bahwa saham komoditas/energi memiliki beta rebound jauh lebih tinggi dari perbankan. Rekomendasi berikut mengintegrasikan semua faktor: beta historis, diskon vs 2021, fundamental, dan katalis ke depan.
ITMG adalah raja saham batu bara dengan dividend payout yang paling konsisten di Indonesia. Pada 2021–2022, ketika IHSG naik dari level saat ini ke ATH, ITMG adalah saham dengan return tertinggi di LQ45 — dari Rp12.350 ke lebih dari Rp38.000, mengalahkan IHSG 10x lipat. Saat ini harganya sudah turun 37% dari puncak tersebut, sementara IHSG kembali ke level yang sama dengan September 2021. Jika siklus batu bara berikutnya terjadi (didorong ketidakpastian energi, geopolitik, atau pemulihan industri China), ITMG akan menjadi yang paling kencang berlari. Dividend yield historis ITMG sering melampaui 15–20% per tahun di saat harga batu bara tinggi — ini menjadi buffer risiko yang kuat.
ADRO berbeda dari ITMG karena sudah mulai transformasi ke energi bersih (ADRO Energy melepas divisi batu bara ke AADI). Ini membuatnya lebih ESG-friendly untuk investor asing jangka panjang. Meski harga saat ini masih di atas September 2021, ADRO telah memberikan dividen final 100% payout ratio untuk 2025 (Rp117/saham), ditambah program buyback Rp5 triliun — sinyal kuat manajemen yakin valuasi saat ini sudah murah. YTD 2026, ADRO sudah naik +41% dan masuk rekomendasi BNI Sekuritas 18 Mei 2026.
ANTM adalah proxy langsung terhadap harga emas — komoditas yang diprediksi analis mencapai $4.400–4.800/troy ounce di 2026, naik dari $2.000-an pada 2021. Ini memberikan ANTM tailwind fundamental yang jauh lebih kuat dibanding September 2021. Meski harga saham saat ini sudah 52% di atas September 2021, ANTM masih undervalue secara absolut karena pendapatan dan profitabilitas emas meledak. 14 analis memberikan rekomendasi "Buy" dengan target rata-rata Rp4.846 (upside +27%) dan target tertinggi Rp6.050. ANTM juga menjadi top losers asing Mei 2026 — ini justru peluang akumulasi.
BMRI masuk sebagai anchor defensif dalam portofolio — beta lebih rendah dari saham komoditas, tetapi diskon vs September 2021 adalah yang terbesar (-51%) dari semua saham perbankan besar. Ini adalah anomali: IHSG di level yang sama, tapi BMRI sudah setengah harganya. Risiko downside sangat terbatas karena dividend yield 7–8% menjadi bantalan. Saat IHSG rebound, saham perbankan biasanya menjadi sektor pertama yang diborong kembali oleh investor asing.
Opsi A — BBNI (Konservatif): Bank dengan diskon 42% vs level September 2021. Satu-satunya bank di grup big bank yang masih diborong asing saat yang lain dijual. Ini sinyal kuat smart money melihat nilai di BBNI. Beta sedang, cocok untuk investor yang ingin eksposur ke rebound IHSG dengan volatilitas lebih rendah.
Opsi B — MDKA (Agresif): Merdeka Copper Gold, perusahaan tembaga dan emas dengan proyek ekspansi besar. Harga hampir sama dengan September 2021, namun proyek tembaga raksasa di Indonesia Timur belum ter-price-in sepenuhnya. Beta tinggi ~3–4x terhadap harga logam global. Untuk investor yang siap dengan volatilitas tinggi demi return berlipat.
Dua skenario alokasi berdasarkan temuan riset: Agresif (memprioritaskan beta tinggi dari komoditas untuk return maksimal saat IHSG rally) vs Balanced (kombinasi komoditas + perbankan untuk stabilitas dividend yield).